Program Studi HI USNI Peduli Literasi Politik Luar Negeri Indonesia di Kalangan Gen Z

Jakarta – PROGRAM Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Satya Negara (Prodi HI USNI) menyelenggarakan workshop bertajuk “Peran Indonesia dalam Mewujudkan Perdamaian Dunia” pada Minggu (24/12/23) untuk meningkatkan literasi Gen Z tentang politik luar negeri Indonesia.

Diselenggarakan secara daring, workshop ini diikuti oleh 250 siswa SMA/SMK/MA dari berbagai kota di Indonesia.

Literasi tentang Politik Luar Negeri Indonesia ini penting dimiliki Generasi Z (Gen-Z) sedini mungkin, karena anak-anak muda memiliki kekuatan potensial untuk membantu Indonesia mencapai kepentingan nasionalnya di luar negeri.

“Anak-anak muda Indonesia tidak hanya sekadar menjadi penonton, tetapi mereka sebetulnya bisa menjadi pemain utama dalam implementasi politik luar negeri Indonesia,” kata dosen HI USNI A. Kurniawan Ulung.

Ulung menjelaskan pemerintah Indonesia perlu melibatkan lebih banyak anak muda dalam mengimplementasikan prinsip bebas dan aktif dalam politik luar negerinya. Menurut Ulung, salah satu kekuatan Gen Z ialah mereka melek teknologi, kreatif, dan penuh ide-ide baru.

Gen Z pintar, adaptif, dan luwes dengan teknologi. Mereka menggenggam informasi dan mampu belajar dengan cepat.

Karena itu, kekuatan tersebut tidak boleh diabaikan dalam politik luar negeri Indonesia. Dengan melibatkan lebih banyak anak muda, kebijakan luar negeri Indonesia bisa lebih optimal pada 2024.

Politik luar negeri Indonesia telah kembali bersinar berkat momentum keketuaan Indonesia di G20 dan ASEAN. Indonesia tidak hanya sukses menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi G20 di tengah bayang-bayang perang Rusia dan Ukraina, tetapi juga berhasil membawa ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) dan ASEAN Indo-Pacific Forum (AIPF) menjadi kenyataan.

Indonesia juga dipercaya oleh Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk berbicara dengan Amerika Serikat tentang pentingnya gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza.

Sejak merdeka, Indonesia mampu mengerjakan berbagai fungsi sekaligus. Sejarah membuktikan Indonesia pandai merumuskan politik luar negeri yang strategis dan berdampak panjang, tetapi pada saat bersamaan, mampu menyelesaikan berbagai persoalan di dalam negeri.

K kebijakan luar negeri Indonesia yang sangat berpengaruh pada dunia lahir ketika situasi dalam negeri penuh tantangan. Pada 1955, misalnya, Indonesia berhasil menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika di tengah resesi ekonomi. Konferensi ini berdampak besar dalam peta politik dunia karena melahirkan Gerakan Non-Blok.

Di lingkup ASEAN, Indonesia selalu menjadi bank ide. Berkat buah pikiran Indonesia, lahirlah Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama Asia Tenggara (TAC) pada 1976, Jakarta Informal Meeting yang mampu menyelesaikan perang Vietnam-Kamboja, dan Bali Concord III tentang penanganan krisis iklim dan pelucutan senjata pemusnah masal.

Karena itu, dosen HI USNI Muhammad Abdurrohim memotivasi Gen Z untuk mempelajari kekuatan diplomasi dalam penyelesaian konflik. Melalui negosiasi, para pemimpin dapat mencari kesepakatan yang saling menguntungkan dan menghindari kerusakan yang lebih parah.

“Kerja sama antarnegara di bidang ekonomi, budaya, dan ilmu pengetahuan dapat membantu mengurangi ketegangan dan meningkatkan kesadaran antarnegara,” kata Abudurrohim.

Ia menambahkan bahwa organisasi internasional seperti PBB dapat menjadi mediator dalam konflik internasional, dan menyediakan forum bagi negara-negara untuk membicarakan isu-isu penting.

Abudurrohim menjelaskan bahwa pemahaman tentang penyebab konflik, sumber ketegangan, serta mekanisme diplomasi dan kerja sama dapat membantu mencegah eskalasi konflik dan mendorong solusi yang damai.

Di era globalisasi saat ini, negara-negara di seluruh dunia semakin saling tergantung satu sama lain dalam berbagai aspek, seperti perdagangan, teknologi, lingkungan, dan keamanan. Literasi tentang kebijakan luar negeri akan meningkatkan pemahaman Gen Z tentang kompleksitas isu-isu global, seperti isu perubahan iklim, pandemi, dan terorisme, dan bersama-sama mencari solusi yang efektif.

Selain workshop, Prodi HI USNI juga menyelenggarakan lomba esai dengan tema “Peran Indonesia dalam Mewujudkan Perdamaian Dunia” untuk siswa SMA/SMK/MA.

Lomba berskala nasional ini diikuti oleh 339 siswa SMA/SMK/MA dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Aceh, Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Samarinda, hingga Makassar.

Menurut Pradono Budi Saputro, Ketua Dewan Juri Lomba Esai, lomba ini bertujuan untuk melatih kemampuan menulis dan mengasah keterampilan berpikir kritis siswa SMA/SMK/MA, terutama dalam memahami kebijakan luar negeri Indonesia.

Pradono menjelaskan ia mengalami kesulitan dalam menilai esai-esai yang masuk karena sebagian besar esai tersebut memiliki kualitas yang baik. Ia mengungkapkan bahwa penilian juri dilakukan berdasarkan sejumlah kriteria, yaitu kesesuaian dengan tema, gagasan, argumentasi, dan penulisan yang baik.

Pradono berharap agar lomba esai Prodi HI USNI ini akan semakin memotivasi anak-anak muda, terutama Gen Z, untuk mengkonseptualisasikan gagasan yang ada dalam pikiran mereka dalam bentuk tulisan.

“Gagasan yang baik adalah gagasan yang dikonseptualisasikan dalam bentuk tulisan karena dapat tersampaikan kepada banyak pihak secara lebih efektif dan efisien,” kata Pradono.

Please follow and like us:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top